Senin, 28 September 2009

Kereta Wisata Solo diresmikan!

Tanggal 27 September 2009, Solo mempunyai satu lagi objek wisata transportasi yang dapat dijual, dengan mulai dioperasikannya kereta uap yang akan melintasi pusat kota Solo,sepanjang Jln. Slamet Riyadi. Peresmiannya dilakukan oleh Menhub, Jusman Syafi'i Jamal, didampingi oleh Walikota Solo, JokoWidodo, dan Wakil Walikota Solo FX. Hadi Ruyatmo.
Seperti kita ketahui, Solo mempunyai jalur kereta yang sangat unik, yaitu jalur Purwosari-Wonogiri yang berhimpitan dengan Jalan Raya Slamet Riyadi, jadi seakan akan seperti trem yang berjalan di tengah lalu lalang kendaraan bermotor.
Ide ini berawal dari Walikota Solo sendiri yaitu Pak Joko Widodo, melihat besarnya potensi jalur Purwosari-Wonogiri untuk dibuat sebagai jalur wisata seperti yang ada di Ambarawa. Sejalan dengan itu juga, pemerintah sedang merevitalisasi jalur mati KA yang ada di Jawa Tengah, sehingga dapat beroperasi, termasuk jalur ini, karena rel-rel di jalur ini sudah berumur cukup lama, bahkan hampir mati suri.
Loko uap yang dipergunakan untuk menarik kereta wisata ini diambil dari Museum Lokomotif Ambarawa, yaitu C1218. Titik keberangkatannya dimulai dari Stasiun Purwosari hingga stasiun Solo Kota, dan hampir seluruh jalur yang dilalui berhimpitan dengan jalan raya, bahkan juga melintasi Kawasan Perbelanjaan, seperti Solo Grand Mall.
Akhirnya kereta uap ini dinamakan Sepur Kluthuk Jaladara.


Softlaunchnya ketika memasuki jalur 1 Stasiun Purwosari.










Inilah gambar kereta Punakawan yang melewati Jalan Slamet Riyadi. Terllihat jelas bahwa antara jalan raya dan rel tidak ada batas, inilah keunikan jalur Solo-Wonogiri, dan hanya ada satu-satunya di Indonesia.




Rabu, 23 September 2009

KERETA API SUMATERA ( Bag. 3)

DIVRE III Sumatera Selatan dan Lampung

Seperti di Sumbar, pembangunan jalur rel ini juga diperuntukkan untuk pengangkutan batubara, dari Tarahan dan Tanjung Enim menuju ke Tanjung Karang di Lampung. Walaupun begitu, pengangkutan penumpang juga tidak di kesampingkan. Berbeda dengan Medan dan Sumbar, jenis loko penarik sudah merupakan lok CC, dan terutama adalah jenis lok CC 202, yang diperuntukkan untuk menarik rangkaian KA Babaranjang. Oleh karena itu, jenis relnya adalah jenis rel R 54, yang mampu menahan beban jenis rangkaian KA ini. Jalurnya terbagi menjadi, Lubuk Linggau-Prabumulih, Prabumulih-Kertapati, dan Tanjung Karang (Lampung)-Prabumulih.


Inilah jenis loko CC 202 yang siap untuk menarik rangkaian KA Babaranjang (batu bara rangkaian panjang). Lok ini bisa menarik rangkaian hingga 40 gerbong. Suatu rangkaian yang cukup panjang..!!!!







Loko ini merupakan jenis loko CC 203 yang kalau di Jawa biasa untuk menarik rangkaian kereta Argo. Perhatikan warna dan stripingnya! Berbeda dengan loko biasa, kemungkinan loko ini merupakan punya swasta atau pihak swasta menyewa kepada PT KA untuk membantu menarik rangkaian batubara.






Ini merupakan jenis loko BB 202 si hidung pesek, loko yang sangat langka karena hanya ada di DIVRE III ini, bertugas sebagai loko langsiran.









Rangkaian KA Fajar (kelas bisnis dan eksekutif) jurusan Kertapati-Tanjung Karang. Selain KA ini ada beberapa KA penumpang lain seperti KA Rajabasa ( Kelas Ekonomi) jurusan Kertapati-Tanjung Karang, KA Bukit Serelo (KA Buser kelas bisnis dan eksekutif) jurusan Kertapati-Lubuk Linggau, KA Sindang Marga (Kelas Ekonomi) jurusan Kertapati-Lubuk Linggau






Loko CC 203 sedang berada di Dipo lokomotif Tanjung Karang. DIVRE III juga mempunyai Balai Yasa yang terdapat di Lahat.








Saat ini PT INKA sedang merakit loko jenis CC 205 yang memang diperuntukkan bagi DIVRE III ini untuk meningkatkan kapasitas pengiriman batubara ke PLTU Suralaya. Dan memang loko CC 202 sudah agak terlalu tua, sejak diluncurkan sekitar awal tahun 90-an.















Selasa, 22 September 2009

KERETA API SUMATERA ( Bag. 2)

Selanjutnya kita menuju Sumatera Barat, atau masuk dalam DIVRE II Sumatera Barat. Jika di Sumatera Utara pembangunan rel ditujukan untuk pengangkutan mengangkut hasil perkebunan, maka di Sumbar awalnya ditujukan untuk mengangkut hasil tambang yaitu Batubara, yang berasal dari Sawah Lunto. Namun ketika cadangan batubara Sawah Lunto habis maka transportasi KA di Sumbar sangat menurun drastis. Untuk pengangkutan penumpang kalah dengan alat transportasi darat lainnya.
Jalur kereta api Sumbar terbagi dalam beberapa bagian, yaitu Padang-Pariaman, Padang-Padang Panjang, Padang Panjang-Sawah Lunto, Padang panjang-Bukittinggi-Payakumbuh. Bagian terakhir ini sudah tidak aktif. Walaupun angkutan batubara yang merupakan tulang punggung perkeretaapian di Sumbar sudah tidak aktif, namun masih ada pengangkutan lain yang masih memerlukan jasa kereta api, yaitu, PT Semen Indarung, serta pengangkutan penumpang untuk kereta wisata. Hal terakhir inilah yang mencoba dijual oleh Pemda Sumbar karena, sebenarnya penggunaan kereta api sebagai potensi wisata seperti di Ambarawa sangat besar. Melewati pemandangan yang sangat indah yaitu Lembah Anai dan Danau Singkarak, serta jenis rel bergigi yang sangat unik menjadikan DIVRE II Sumbar punya ciri khas tersendiri. Namun, bencana alam gempa bumi yang mengguncang Padang tahun 2008, membuat semua harus terhambat kembali. Gempa mengakibatkan jalur kereta api yang melewati Lembah Anai rusak, dan tidak laik untuk dilewati kereta api, padahal Pemda telah menyiapkan rangkaian wisata untuk melewati daerah eksotik ini. Akibatnya pula terputus jalur antara Padang-Padang Panjang.
KA Regular yang aktif hanyalah KA Sibinuang, Padang-Pariaman, sedangkan di Stasiun Padang Panjang tidak ada KA reguler yang aktif kecuali KA Wisata Padang Panjang-Sawah Lunto yang aktif pada hari Sabtu atau Minggu, ataupun jalan jika ada permintaan dari wisatawan.



Jembatan Tinggi yang melintasi Lembah Anai ketika jalur masih aktif.








Dipo Padang panjang dan rangkaian kereta wisata.










Stasiun Padang Panjang di pagi hari. Terdapat rangkaian KA Wisata yang siap untuk dijalankan menuju Sawah Lunto.









KA Wisata Padang Panjang-Sawah Lunto sedang berhenti di stasiun Solok.











KA Wisata ketika melewati Danau Singkarak









Stasiun Sawah Lunto, dan tampak KA Wisata telah tiba di Sawah Lunto, siap diberangkatkan kembali menuju Padang Panjang








Rangkaian KA Sibinuang di Stasiun Padang siap untuk diberangkatkan menuju Pariaman