Minggu, 20 September 2009

KERETA API SUMATERA ( Bag. 1)

Kereta Api di Sumatera mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan kereta api di Jawa, terutama mengenai tujuan fungsional mengapa dibangunnya jalur kereta di P. Sumatera ini. Jalur keretanya tidak saling sambung menyambung antar daerah, ini dikarenakan tingkat kebutuhan pengangkutan di masing-masing daerah di P. Sumatera berbeda. Sebagian besar tujuan dibangunnya jalur kereta api adalah untuk pengangkutan barang, baik hasil perkebunan ataupun hasil tambang. Terbagi dalam 3 Divre ( Divisi Regional), yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Sumatera Selatan/Lampung.

DIVRE I Sumatera Utara
Dibangun oleh swasta,Deli Spoorweig Matschapij (DSM) tahun 1883, untuk mengangkut hasil perkebunan kelapa sawit. Stasiun besarnya berada di Medan. Daerah wilayahnya dari Besitang,
perbatasan Sumut dan Aceh, hingga ke Rantau Prapat stasiun akhir dari wilayah DIVRE I. Khusus untuk Besitang, dulu ada jalur lanjutan menuju Aceh, dengan gauge rel yang berbeda dari rel yang ada di Medan,yaitu 600 mm. Sehingga bagi para penumpang yang ingin menuju ke Aceh, harus transit dulu di Besitang ini.








Beberapa KA penumpang yang dilayani sta. Medan ini : KA Sribilah ( Medan-Rantau Prapat), KA Putri Deli ( Medan-Belawan), KA Lancang Kuning ( Medan-Tanjung Balai), dan KA Siantar Ekspress ( Medan-Pematang Siantar)







Jenis loko nya merupakan seri BB, ini dikarenakan tekanan gandar rel belum mampu untuk dilalui loko seri CC.









Balai Yasa khusus DIVRE I ini terdapat di Pulu Brayan, yang bertujuan untuk membuat gerbong-gerbong khusus DIVRE I Sumut ini







Pulu Brayan dilihat dari Google Map. Yang dilingkari merupakan stasiun Pulu Brayan, sedang yang dibatasi dengan garis kuning adalah Balai Yasa Pulu Brayan.











Gambardisamping adalah rangkaian KA Sribilah ( Medan-Rantau Prapat) sedang melintas di stasiun Lubuk Pakam







Peningkatan jalur di DIVRE I ini sedang dilakukan secara bertahap, agar ke depannya mampu untuk dilalui loko jenis CC, yang mampu menarik lebih banyak gerbong.Angkutan BBM dan minyak sawit lebih mendominasi di DIVRE I ini, karena sebagian besar merupakan daerah perkebunan. Bahkan ada beberapa stasiun yang berada di daerah perkebunan, dan jauh dari akses jalan raya. Inilah salah satu keunikan dari DIVRE I

1 komentar:

Prince mengatakan...

Dari beberapa literatur yang saya baca, pada 1981 hingga 1984 Divre I mendapatkan alokasi kereta rel diesel hidrolik (KRDH) yang bentuknya seperti KRD Ruwa Jurai di Divre III. Namun saat ini mereka sudah dimodifikasi menjadi kereta kelas ekonomi dan kereta pembangkit (genset).

Adakah informasi kapan KRDH-KRDH dari Jawa tersebut berhenti beroperasi dan mulai dimodifikasi menjadi kereta ekonomi dan genset?